Selasa, 30 September 2008

Antara Tuhan dan Agama

Agama dapat dipahami sebagai suatu sarana, yang didalamnya terdapat pedoman-pedoman bagi manusia untuk menjalani hidup dan sekaligus menjadi pegangan agar manusia tidak kehilangan arah dalam pencarian, pengertian, maupun pengenalan akan Tuhan (’Yang Maha Tinggi’ atau yang transenden). Atau bisa juga dipahami sebagai suatu istilah, aliran kepercayaan atau identitas untuk membedakan golongan yang satu dengan lainnya (seperti Kristen, Islam, Budha, Hindu).
Masing-masing golongan ini (Kristen, Islam, Budha, Hindu) mempunyai ajaran dan pengertian (bahasa/sebutan) sendiri-sendiri akan sesuatu yang transenden itu. Nah perbedaan doktrin dan persepsi inilah yang sering menjadi perselisihan hingga saat ini, tapi apapun ajarannya semua agama yang ada ini sebenarnya mengarah kepada Tuhan (yang transenden) yg sama, Tuhan yang sejati, Tuhan Semesta Alam, Tuhan seluruh umat manusia dan seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Jadi, sebenarnya Tuhan kita itu sama, yang ada hanyalah perbedaan persepsi antar manusia.
Dalam suratnya yang ditujukan kepada Adriani pada 24 September 1902, Kartini mengungkapkan, bahwa semua agama menuju kepada kebaikan.
”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tapi kesemuanya itu menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan dan kami sendiri menyebutnya Allah”
Disini Kartini menganggap semua agama pada hakikatnya sama-sama mengajarkan kebaikan. Tetapi seringkali justru pemeluknya sendiri yang membuat agama menjadi dipandang tidak baik karena perilakunya yang jelek, yang saling menyalahkan, saling memojokkan, yang pada akhirnya menimbulkan kebencian, kekerasan agama bahkan peperangan. Dalam blog-nya, DR. K. A. M. Jusufroni mengatakan, bahwa itu semua terjadi karena adanya malfungsi agama yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti superioritas agama (memandang bahwa agama kita lebih baik dari yang lain), klaim kebenaran mutlak (memandang bahwa agama kita lebih benar dari yang lain), pengkultusan pendiri atau pemimpin agama, ketundukan total pada doktrin agama, dsb.
Jadi, intinya Tuhan adalah Kebaikan, DIA ada pada setiap agama yang mengajarkan kebaikan dan yang memancarkan kedamaian. Tuhan jangan dimonopoli, jangan diperebutkan, jangan di pandang sebagai bagian dari satu agama saja, hanya untuk menarik umat untuk mengikuti persepsi kita. Tuhan bukan hanya milik satu agama saja, Tuhan itu tidak terikat pada satu agama. Agama hanyalah sebuah sarana yang Tuhan berikan untuk kita, yang didalamnya terdapat pedoman hidup supaya kehidupan manusia tidak kacau. Agama ada untuk menuntun kita dan membimbing kita dalam pencarian dan pengenalan akan yang transenden itu (agar pemikiran kita akan sesuatu yang transenden tidak kacau dan hanya mengarah padaNYA saja), agama ada untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri kita, dan agama itu ada untuk mengontrol kehidupan manusia. Sementara Tuhan itu sendiri bisa saja kita temui diluar agama, DIA berada dalam kesadaran dan pemahaman kita, DIA ada dalam hati nurani kita masing-masing, DIA ada saat kita melakukan sesuatu yang baik.